Kamis, 20 Juni 2013


MANAJEMEN LABA 
I.              Latar Belakang

Laporan keuagan merupakan sarana pengkomunikasian informasi keuangan kepada pihak-pihak di luar korporasi. Laporan keuangan tersebut diharapkan dapat memberikan informasi kepada para investor dan kreditor dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan investasi dana mereka. Dalam penyusunan laporan keuangan, dasar akrual dipilih karena lebih rasional dan adil dalam mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara rill, namun di sisi lain penggunaan dasar akrual dapat memberikan keleluasaan kepada pihak manajemen dalam memilih metode akuntansi selama tidak menyimpang dari aturan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. Pilihan akuntansi yang secara sengaja dipilih oleh manajemen  untuk tujuan tertentu dikenal dengan sebutan manajemen laba atau earning management.

II.           Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
A.    Apa yang dimaksud prinsip akrual laporan keuangan ?
B.     Bagaimana pemecahan permasalahan prinsip akrual?
C.     Bagaimana pemecahan kasus manajemen laba terhadap laporan keuangan?

III.        Pembahasan
MANAJEMEN LABA
A.    Pengertian Manajemen Laba
Schipper (1989) dalam Saiful (2004) mendefisinikan manajemen laba sebagai salah satu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja memperoleh beberapa keuntungan pribadi.
Healy dan Wahlen (1991) dalam Saiful (2004) menyatakan bahwa manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgment  dalam pelaporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk merubah laporan keuangan, sehingga menyesatkan stakeholder tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mengetahui hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi yang dilaporkan.

B.     Faktor-faktor Manajemen Laba
Faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen laba yaitu sebagai berikut:
1.         The Bonus Plan Hypothesis
Pada perusahaan yang memiliki rencana pemberian bonus, manajer perusahaan akan lebih memilih metode akuntansi yang dapat menggeser laba dari masa depan ke masa kini sehingga dapat menaikan laba saat ini. Hal ini dikarenakan manajer lebih menyukai pemberian upah yang lebih tinggi untuk masa kini. Dalam kontrak bonus dikenal dua istilah yaitu bogey (tingkat laba terendah untuk mendapatkan bonus) dan cap (tingkat laba tertinggi). Jika laba dibawah bogey, tidak ada bonus yang diperoleh manajer sedangkan laba berada di atas cap, manajer tidak akan dapat bonus tambahan. Jika laba bersih di bawah bogey, manajer cendurung memperkecil laba dengan harapan memperoleh bonus lebih besar pada periode berikutnya, demikian pula jika laba berada diatas cap, jadi hanya jika laba bersih derada diantara bogey dan cap, manajer akan berusaha menaikkan laba bersih perusahaan.
2.         The Debt to Equity Hypothesis (Debt Covenant Hypothesis)
Pada perusahaan yang mempunyai rasio Debt to Equity Hypothesis tinggi, manajer perusahaan cenderung menggunakan metode akuntansi yang dapat meningkatkan pendapatan laba. Perusahaan dengan rasio Debt to Equity Hypothesis yang tinggi akan mengalami kesulitan dalam memperoleh dana tambahan dari pihak kreditor bahkan perusahaan terancam melanggar perjanjian utang.
3.         The Political Cost Hypothesis (Size Hypothesis)
Pada perusahaan besar yang memiliki biaya politik tinggi, manajer akan lebih memilih metode akuntansi yang menangguhkan laba yang dilaporkan dari periode sekarang ke periode masa mendatang sehingga dapat memperkecil laba yang dilaporkan. Biaya politik muncul dikarenakan profitabilitas peruasahaan yang tinggi dapat menarik perhatian media dan konsumen.

C.     Tujuan Manajemen Laba
Manajemen laba dilakukan dengan tujuan mengelabui pemakaian laporan keuangan. Pemahaman ini sejalan dengan teori agensi yang menyatakan bahwa pemisahan kepemilikan dan pengelolaan perusahaan akan mendorong manajer untuk berusaha memaksimalkan kesejahteraan, meski harus mengelabui pihak lain.

D.    Strategi Manajemen Laba pada Laporan Keuangan
Terdapat tiga jenis strategi manajemen laba :
a.       Meningkatkan Laba (Increasing Income) adalah meningkatkan laba pada periode kini untuk membuat perusahaan dipandang lebih baik. Cara ini juga memungkinkan peningkatan laba selama beberapa periode.
b.      Pengurangan laba (Big Bath) adalah penghapusan laba sebanyak mungkin pada satu periode. Periode yang dipilih biasanya periode dengan kinerja yang buruk atau peristiwa saat terjadi satu kejadian yang tidak biasa seperti perubahan manajemen, merger, atau restrukturisasi.
c.       Perataan laba (Income Smoothing) merupakan bentuk umum manajemen laba, dimana manajemen akan meningkatkan atau menurunkan laba yang dilaporkan untuk mengurangi fluktuasi. Perataan laba juga mencakup tidak melaporkan bagian laba pada periode baik dengan menciptakan cadangan atau “bank” laba dan kemudian melaporkan laba ini pada saat periode buruk.
Contoh untuk perataan laba adalah pada saat pembuatan faktur penjualan misalnya: penjualan yang sebenarnya untuk periode yang akan datang pembuatan fakturnya dilakukan pada periode ini dan dilaporkan sebagai penjualan periode ini, pembuatan pesanan atau penjualan fiktif, Downgrading (penurunan) produk misalnya dengan cara mengklasifikasikan produk yang belum rusak kedalam kelompok produk yang rusak dan selanjutnya dilaporkan telah terjual dengan harga yang lebih rendah dari harga yang sebenarnya.
Contoh lain pada unsur biaya misalnya: memecah faktur untuk sebuah pembelian/pesanan dipecah menjadi beberapa pembelian/pesanan dan selanjutnya dibuatkan beberapa faktur dengan tanggal berbeda kemudian dilaporkan dalam beberapa periode akuntansi, mencatat prepayment (biaya dibayar dimuka) sebagai biaya, misalnya melaporkan biaya advertensi dibayar dimuka untuk tahun depan sebagai biaya advertensi tahun ini.

E.     Hubungan Manajemen Laba terhadap Penyajian Laporan Keuangan
Upaya mempengaruhi informasi keuangan disebut dengan manajemen laba. Secara umum manajemen laba dapat dilakukan karena dasar pencatatan transaksi yang dipakai adalah akrual. Akuntansi berbasis akrual berusaha mencatat semua pengaruh keuangan yang terjadi dalam suatu transaksi dan peristiwa yang mempunyai konsekuensi kas untuk perode bersangkutan. Laporan keuangan yang disusun dengan menggunakan basis akrual dapat memberikan informasi yang lebih lengkap dan komprehensif, hal ini yang membuat laporan keuangan lebih relevan dengan kebutuhan pemakai informasi ini dibandingkan dengan laporan keuangan basis kas.
Pada dasarnya pemakai laporan keuangan ingin mengetahui kinerja yang telah dicapai oleh perusahaan bersangkutan secara utuh. Oleh karena itu, manajemen laba dapat dikatakan sebagai upaya manajerial untuk mengintervensi informasi dalam laporan keuangan dengan cara memanfaatkan kebebasan memilih dan menggunakan metode akuntansi dan menentukan nilai estimasi akuntansi. Meskipun demikian, secara praktis aktivitas rekayasa manajer ini sulit untuk dideteksi. Pemakai laporan keuangan akan merasa kesulitan untuk mengetahui apakah informasi itu telah direkayasa atau tidak hanya dengan melihat dan membaca informasi itu.
Ada dua keterbatasan pemakai laporan keuangan dalam menginterpretasikan laporan keuangan untuk mendeteksi manajemen laba, yaitu pertama kriteria penyajian laporan keuangan rawan terhadap kebijakan manajerial yang merupakan fleksibilitas dalam menghitung laba karena akuntansi memang memberikan peluang bagi manajer untuk mencatat fakta dengan cara tertentu dan mengestimasi secara subjektif. Kedua, tidak ada observasi yang sempurna terhadap kebijakan manajerial, mengingat tidak semua kebijakan manajerial dapat diobservasi oleh pemakai laporan keuangan. Bahakan jika kebijakan itu diungkapkan dalam laporan keuangan sekalipun.
Upaya-upaya rekayasa inilah yang membuat informasi yang disajikan dalam laporan keuangan menjadi tidak relevan dengan kebutuhan pemakainya. Informasi yang telah direkayasa hanya relevan dengan kebutuhan pihak-pihak tertentu, khusus manajer. Apalagi penyelewengan itu sebenarnya telah mengakibatkan informasi keuangan menjadi tidak relevan, netral, lengkap, serta tidak mempunyai daya banding dan daya uji lagi. Sementara kebutuhan dan kepentingan pihak lain atau stakeholder untuk memperoleh informasi yang berkualitas menjadi terabaikan

IV.        Kesimpulan
Manajemen laba tidak boleh dilakukan karena tujuan manajemen laba adalah melakukan rekayasa agar sesuai dgn apa yang diinginkan oleh pembuat manajer laba, maka hal ini tidak sesuai dengan etika dan akuntansi